CURHAT : Dibalik Derasnya Hujan, Tersirat Cipratan Kesepian
Bukan agar kalian merasa iba, bukan karena hidup saya menderita, tapi percayalah, baso mang ajah enak apa adanya.
Pada saat itu, waktu menunjukan pukul 13.45, bel pulang sekolah sudah berkumandang namun sang guru enggan keluar, katanya sih kangen, yaudah, terpaksa kami turuti, kami usir. Iya, kami yang diusir. Justru itulah yang kami harapkan, tsah!
Kebetulan hari itu ada jadwal latihan balet, maksudnya basket. Bukan kebetulan sih emang udah jadwalnya. Jujur, waktu itu saya belum sarapan, belum juga dapat sapaan dari gebetan.
Akibatnya, perut terasa perih, seperti saat melihat cewek perfect dibonceng sama si bulu ketek, perut terasa sangat kosong, seperti hati ini yang begitu sepi tak tertolong.
Mang ajah, begitulah pria ini biasa disapa. Beliau merupakan pahlawan yang sangat berjasa disaat hujan turun tapi tak ada dia. Dialah sang pemadam kelaparan. Pahlawan tanpa tanda jasa, kelas.
Saat akan menuju lapangan, mang ajah terlihat melambai-lambaikan tangan seakan memintaku untuk memenuhi hasrat makan baso paket seven. Godaan tersebut begitu kuat hingga saya hampir lepas kendali, namun tiba-tiba teringat pepatah yang pernah kakek saya katakan, lebih baik mati saat bertugas daripada mati saat ngabaso.
Mau apa dikata, daripada meninggalkan tanggungjawab sebagai anggota eskul yang baik dan beradab, santun serta berbudi pekerti, saya kerahkan seluruh kekuatan yang tersisa untuk melakukan latihan.
Efek samping dari penggunaan kekuatan itupun mulai muncul, saya hampir mati dimedan perang.
Tak disangka, anugrah pun muncul, alhamdulillah, hujan turun dengan begitu indahnya, semua orang segera berteduh. Saya terkapar lemas diteras, dengan perut yang terus meminta makan, bila ditunda lebih lama mungkin perut ini akan minta naik haji.
Dengan tenaga yang tersisa, saya bergegas menuju posko pemadam kelaparan milik mang ajah. Tak menunggu lama saya pun melakukan selebrasi dan memeluk mang ajah, kemudian memesan baso paket seven yang sejak pulang sekolah saya idamkan.
Pesanan tiba, aroma dari baso yang begitu semerbak ditemani rintik air hujan yang cukup deras, membuat suasana menjadi begitu hangat. Makin kesini makin hangat, setiap suapan saya nikmati dengan penuh konsentrasi. Namun suasana malah menjadi terasa panas, saya pikir ada yang ngebakar ban motor, ternyata disebelah saya ada yang lagi pacaran, nasib.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment