Masa SMA


Masa SMA, orang bilang masa paling indah yang hanya bisa dirasakan sekali seumur hidup. Padahal jika dihitung, dalam jangka waktu 3 tahun bisa beratus-ratus kali. Jadi kalau ada yang bilang masa SMA itu hanya dirasakan sekali seumur hidup, itu bohong. Dan jika ditanya siapa yang bilang bohong, jangan bilang saya, jangan juga bilang dia. Saya dan dia tidak ada hubungan apa-apa.

Memang benar, hidup akan terasa singkat bila terlalu dinikmati, seperti halnya masa SMA ini. Tak terasa, padahal rasanya baru saja mengikuti MOPD, memakai peci, berpapan nama hijau menggoda, sepatu dengan tali rapia. Ketika kita diharuskan membawa barang yang namanya disamarkan, atau lebih tepatnya menjadi sulit dimengerti. Seperti jeruk yang diubah menjadi bulan berjaring, atau aku yang diubah menjadi jodoh kamu. Disuruh minta tanda tangan ke guru, kan banyak tuh, belum lagi orang pertama kali masuk kesana belum tau kan orangnya yang mana. Bermodalkan foto pada buku panduan kita berburu tanda tangan. Beruntung kamera C360 tidak dipergunakan untuk foto formal.

Setiap hari merasakan betapa salahnya berangkat pukul 8 pagi, meskipun masih ada paginya, tetap saja dianggap kesiangan. Penampilan harus rapih, gak boleh pake gelang power balance, padahal manusia perlu keseimbangan.

Masa SMA, 3 tahun bersama orang-orang yang berbeda rumah, jelas. Berbagi satu ruangan, berbagi oksigen setiap detiknya, tanpa pamrih, tanpa sadar. Meski terkadang ada yang ingin cepat pulang, atau dikarenakan ada panggilan alam, membuat bel pulang begitu dirindukan. Menikmati mata pelajaran yang diberikan, tugas individu ataupun kelompok yang disuguhkan.

Rumah? Tentu, sekolah adalah rumah kedua diluar batas teritorial kepemerintahan ibu rumah tangga. Rasanya kurang afdol bila pulang sekolah sebelum waktunya, begitupun sebaliknya. Giliran sekolah, ingin libur. Giliran libur, ingin sekolah, atau hanya sekedar ingin uang jajan aja. Paling heboh kalau ada berita sekolah dibubarin, padahal mah hoax, palsu seperti cinta kamu. Tapi kadang juga gak ada angin gak ada hujan gak ada kamu disisiku, tiba-tiba aja dibubarin, kenikmatan yang hakiki.

Susah payah mengerjakan tugas, hingga merelakan waktu tidur karena deadline, namun pada akhirnya hanya sekedar diberi paraf. Sakit? jelas, yang pasti lebih sakit dari yang namanya patah hati, atau sakit gigi. Eh tapi lebih sakit gigi deh.

Betapa senangnya ketika hari itu ulangan, belum sempat membaca materi sama sekali, gurunya berlisensi "killer", ternyata gak jadi. Atau pas mau ulangan, gurunya bilang, boleh open book ya. Tapi ternyata salah bawa buku.

Atau mungkin kalian ingat saat waktunya presentasi, tapi salah seorang anggota berhalangan hadir, jadinya kelompok lain yang tampil, yang belum siap. Ada si aktif yang sering bertanya, kadang bisa nanyanya berlebihan, ngabisin waktu, tapi kelompok lain senang. Atau ada karena materinya gak ngerti, gak ada yang nanya sama sekali. Jadi kalau mau presentasi, diusahakan materinya yang sulit dimengerti. Suatu berkah bila ternyata pas presentasi boleh liat teks, pada akhirnya malah jadi baca naskah presentasi. Tapi, itu tergantung gurunya juga. Terus ada yang memang mau ada anggota yang tidak hadir pun tetap wajib presentasi, alhasil ketua kelompok jadi tumbal, nambah materi. Saya termasuk orang yang paling malas kalau harus presentasi, enakan dirumah, bisa tidur. Disekolah juga bisa, tapi pas bangun, udah maghrib.

Disaat KM dipanggil sama guru, disitu ada beberapa kemungkinan.

Pertama, gurunya ngasih tugas, nanti bakalan masuk. Disini kemungkinannya fifty-fifty, bisa beneran masuk, atau cuman sekedar biar kitanya ngerjain. Kalau beruntung ya gurunya gak masuk, tapi kalau lagi sial, udah tugasnya belum eh gurunya masuk.

Kedua, gurunya berhalangan masuk sehingga dikasih tugas dan harus dikumpulin. Tergantung kondisi, kalau dikumpulinnya sehabis pelajaran, ya ngerjain, kalau minggu depan ya, ngerjain juga, tapi pas minggu depan. Nah pas minggu depannya lupa ngerjain.

Ketiga, gurunya masuk, cuman ngasih tugas, tapi diem dikelas soalnya gurunya ngerjain tugas juga. Pas gini suasana jadi canggung, mau becanda takut dimarahin, mau serius, kamunya udah sama yang lain. Eh apa atuh.

Keempat, gurunya nyuruh satu jam buat ngapalin, sejamnya lagi ulangan. Biasanya sih kalau di IPA 5 pas pelajaran Biologi, sedikit waktu banyak soal. Teman sekelas saya sih sudah tidak aneh dengan prinsip kerja setengah-setengah ini, ada yang emang ngapalin, ada juga yang bodo amat yang penting absensi lengkap, mulus, lancar jaya.

Kelima, gurunya gak masuk, gak ngasih tugas, tapi harus diem dikelas. Ya jelas, pada keluar buat jajan atau sekedar nongkrong di tribun atau meja kesempurnaan cinta. Surganya anak SMA.

Kalau harus jujur sih, di SMA lebih banyak waktu bebasnya daripada belajar, pas belajar pun kadang suka bebas. Dalam artian, bisa sambil main hp, main game, cuman gak bisa sambil main futsal. Suka paling was-was tuh pas lagi seru ngobrol, atau ngerjain sesuatu, tiba-tiba salah seorang bilang "ssttttttt....!", ya semua pada nengok, eh gak ada apa-apa. Atau ada yang tiba-tiba lari masuk kelas, terus bilang "ada ibuuu....!", padahal dusta.

Kerja kelompok, suatu ajang pembuktian, mana siswa yang berguna dan mana yang cuman numpang nama doang. Pas kerja kelompok, yang ngerjain satu orang, yang nonton sisanya. Ada yang paling rajin kerja kelompok, mau dimanapun kapanpun bisa. Ada yang anggota nomaden, gak jelas sebenarnya dia itu kelompok mana, kerjaannya pindah-pindah, kayak perasaan. Terus ada yang susah banget buat diajak kerja kelompok, jalan yang sering ditempuh adalah kabur, atau alasan klasik gak boleh pulang sore sama orang tua.

Terus nih kalau ada anak kelas yang lagi ulang tahun, suka callingan sama guru killer biar dikerjain.  Yang ulang tahun suka disuruh ngerjain soal didepan, terus dipersulit, ciwi-ciwi suka sampe nangis. Cowok mah jarang, tapi ada satu dua tiga, sayang semuanya. Sayangnya cara ini sudah terlalu mainstream, sehingga kesan "reuwas" nya menjadi kurang terasa. Nah pas pulangnya, diiket ditiang bendera, terus dikasih siraman rohani. Air penyejuk jiwa. Udah dijailin gitu, pada minta traktir. Ada gak teman-teman yang kayak gitu? Ada, banyak.

SMA juga menjadi saksi, siswa mulai mencoba meraih pundi-pundi rezeki. Ada yang dengan berjualan, menyediakan jasa seperti jasa pijat atau nulis kilat, atau bahkan dari hasil sandiwara lks. Seperti kita ketahui, tiap semester pasti kita harus membeli lks untuk beberapa mata pelajaran, seharga 10 ribu per lks. Jiwa bisnis seorang anak SMA diuji disini, ada yang berbisnis dengan bersih, ada juga dengan yang cara tidak terpuji. Atau lebih dikenal sebagai, uniko, usaha nipu kolot.

Maksud bersih disini, dia mendapat uang lebih kerena memang udah rezekinya aja. Misalkan ada 9 lks yang harus dibeli, karena mendekati 100 ribu, dan ternyata orang tua pun memberikan uang selembar 100 ribu, kebetulan gak ditanyain kembaliannya tuh yang 10 ribu, ya lumayan buat neraktir kamu hehe. Nah untuk yang tidak terpuji, dia bisa minta berlipat ganda harga lks biasanya. Tadinya 10 ribu, jadi 5 ribu, kan bego. Nggak deh, jadi 20 ribu per lks. Kan lumayan untung 10 ribu, dikali 9 aja udah berapa hayo.. Lumayan lah. Tapi mau sebersih apapun itu, tetap saja gak boleh. Perasaan aja gak bisa dibohongi, apalagi orang tua. Dan jika orang tua kita tau, pikirkanlah bagaimana perasaan mereka.

Terus, kalau pulang sekolah hujan deras, terpaksa kita menunggu hingga agak reda. Bisa sampai sore juga. Biasanya kalau nggak main uno, ya main uno. Seringnya main uno sih. Atau bisa juga nonton film, genrenya juga beragam, biasanya tergantung yang punya laptop suka ngoleksi film apa. Kalau ciwi-ciwi biasanya film korea yang ditonton, oppa - oppaan. Tapi saat ini cowok banyak juga yang suka sama film korea, antara suka sama karakter ciwi-ciwinya yang cantik, atau suka sama oppa juga. Kalau grup pemberani nontonnya film horror, atau thriller karena memicu adrenalin sama menantang (film biru termasuk gak?). Itu juga terkadang suka pada menjerit, hingga meronta-ronta. Kalau saya sendiri, lebih ke film thailand. Soalnya selain biasanya lucu, ya pasti lucu. Semua tergantung selera, selera tiap orang berbeda-beda. Kalau masih bingung masalah selera, tanya aja pria. Karena, pria punya selera.

Kelak kita akan rindu suasana itu, suasana dingin hujan bercampur hangat kebersamaan, bersama teman.

Entah kenapa, pelajaran yang paling dinantikan oleh laki-laki adalah pelajaran olahraga. Mungkin karena jati diri seorang lelaki memanglah pada kegiatan olahraga, atau mungkin juga karena sebagai media mengolah mata, relaksasi gratis. Lelaki pasti lebih paham maksudnya. Biasanya, lelaki dominan pada bisa main futsal, minoritas basket atau voli. Jadi kalau anak basket main futsal, yang rata-rata gak bisa main futsal, jadi kiper. Katanya sih tangannya udah terbiasa nangkap bola, jadi jago, padahal gak semua gitu. Nah, kalau anak futsal yang main basket, tetep aja gak ada bedanya, karena basket gak ada kiper. Itulah ruginya jadi anak basket pas jam olahraga. Tapi jangan salah, meskipun pelajaran yang paling dinanti, beda lagi kalau ada tes kebugaran jasmani.

Sedangkan pelajaran wajib seperti fisika, matematika, kimia masih menduduki predikat mata pelajaran yang kurang menarik dimata laki-laki. Nggak semua juga sih, atau mungkin itu juga hanya menurut pandangan saya saja. Tapi da emang banyak ko.

Masa SMA itu penuh harapan. Seperti saat kita mau UAS, berharap sebangkunya sama dedek gemas. Kalau beruntung ya alhamdulillah, nambah semangat, nambah betah juga. Gak jarang juga ada yang jadian gara-gara sebangku pas UAS ini, bawa berkah juga ternyata. Tapi kalau lagi sial, dapetnya malah sama mas-mas, brewokan.

Pas udah beres UAS, masih harus harap-harap cemas. "Duh aku remidi gak ya", seringkali menghampiri sanubari hati. Ada banyak tipenya juga sih gak selalu cemas, ada yang bodo amat, mau semua remidi juga asalkan sama kamu mah, abang siap. Eh ternyata, remedialnya sendiri, yang lain nggak. Ada yang histeris sekali, gak mau ada remidi satu pun, kalau ada itu udah kayak kucing dikawinin, menjerit. Atau atau juga yang temen-temennya remidi, dia nggak, malah pengen ikutan.

Kalau waktu istirahat itu biasanya pada ke kantin, tapi asa enak dipanggil warung, yang dipojok tuh udah paling mantap. Waktu istirahat kan 2 kali, nah istirahat yang kedua biasanya suka ke mesjid, solat. Yang soleh ya solat, yang belok juga ada, kewarung lagi. Ada yang diem dikelas, kewarung nggak, solat nggak, bisanya ngerjain tugas. Tugasnya jadi nggak berkah.

Pelajaran seni biasanya suka ada tugas kelompok ngearansemen lagu, kalau ngearansemen perasaan kan gak mungkin. Mungkin sih, tapi untuk apa, untuk apa cinta tanpa pembuktian. Maudy ayunda, untuk apa. Biasanya bisa nyampe berminggu-minggu latihan, hasilnya, ada yang bener latihan, ada yang seadanya. Ada yang bener-bener perhatian, ada yang biasa aja. Tapi serunya, gak ada, cape sih tapi kan pengelaman.

Kemudian tugas yang paling penuh perjuangan, ya, KTI. Karya tulis ilmiah. Pokoknya bikin KTI itu harus siap, sabar, kuat direvisi. Harus siap survey atau bikin angket sana sini, dan yang ngisinya juga gak semuanya serius. Ada yang disalahgunakan, dan saya sendiri termasuk didalamnya. Terus ada juga yang wawancara ke lapangan, ya jelas, gak ada orang. Setelah sekian banyak perjuangan, KTI beres, perjuangan belum sampai disini. Masih harus presentasi. Jadi ya, bikin KTI itu menyimpan kenangan tersendiri, tapi gak rugi, buat bekal dimasa depan nanti.

Pas bulan Ramadan, biasanya disuruh ikutan pesantren kilat. Yang menjadi bukti ikut tidaknya adalah sertifikat, kalau gak punya gak bandung. Gak ikutan ketang. Padahalmah dikumpulin juga nggak, sebagai motivasi biar ikutan pesantren kilat aja kayaknya. Durasinya lumayan, tapi gak full satu bulan, cuman seminggu atau paling lama dua minggu. Dan biasanya lagi, diluar sekolah, alias lingkungan rumah. Kalau saya suka dimasjid agung tanjungkerta, eh tanjungsari. Soalnya disanamah enak, banyak pengalaman, teman-teman juga pada ikutan disana, juga dilengkapi beragam pemandangan. Diakhir, ada acara bukber, buka bersama gitu.

Oh iya, dibulan Ramadan acara bukber emang udah gak asing lagi ditelinga, sama didompet. Karena emang, bukber itu menguras dompet. Sama anak kelas, sama eskul, sama alumni smp, bahkan sd juga suka ngadain. Dan yang terakhir, sama kamu. Ko terakhir sih? Karena yang terakhir itu biasanya paling enak. Apanya?

Naik ke kelas 12, menjadi derita bagi siswa salah jurusan yang bingung masuk perguruan tinggi. Banyak yang menyesal masuk ipa, saya sendiri, biasa aja sih. Orang-orang menjadi sibuk memikirkan masa depan masing-masing, demi menggapai cita-cita mereka sendiri tentunya. Tapi yang bikin heran, katanya pada mau lulus UN, tapi giliran pengayaan malah pada kabur. Emang sih lulus nggak bergantung sama sering pengayaan atau nggaknya, tapi kan sayang, aku hamil. Eh, tapi kan sayang, udah bayar tapi gak "dipake", jadinya mubazir. Tapi kalau mau, barengan.

Biasanya yang paling sibuk tuh biasanya yang mau masuk polisi atau tni, sering dispen buat ngurus data itu ini. Dan yang paling nyantai, yang udah keterima ptn sebelum lulus tentunya. Ada pula yang masih kebingungan, contohnya ya seperti saya ini. Yang pasti, mau kemanapun kita menempuh pendidikan nanti, semoga semua mendapat ilmu yang hakiki serta diridhai oleh Allah yang Maha Mengetahui.

Jadi ya gitu, masa SMA itu memang menyenangkan, penuh ketegangan, pengorbanan, asal jangan kebakaran. Banyak kenangan yang tak terlupakan, terlalu indah untuk dilupakan. Meskipun tidak selalu tentang kenangan manis, atau cerita romantis, yang penting kelak hubungan pertemanan ini tetap harmonis. Ini hanya sebagian cerita dari masa SMA yang saya alami, selebihnya saya yang simpan sendiri disini *nunjuk hati.

Tapiii, yang akan paling sangat sekali dirindukan, ya pasti orang-orangnya. Lah kan daritadi gak cerita orang-orangnya. Jadi gimana? Tenang, dipostingan selanjutnya saya akan bercerita ko, santai.

No comments:

Post a Comment